Saat ini Masihkah Ahli Kitab?


Di dalam Al Qur’an Al Karim banyak disebutkan kata Ahli Kitab. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah siapa yang dimaksud dengan ahli kitab itu sendiri? Dan apakah saat ini beberapa golongan yang mengaku memegang teguh ajaran Taurat dan Injil masih dapat disebut dengan ahli kitab?

Pengertian secara umum dari Ahli Kitab adalah kaum atau golongan yang kepadanya diturunkan kitab Taurat dan Injil dari sisi Allah, yaitu Yahudi dan Nashrani. Para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang siapa sebenarnya yang dimaksud dengan ahli kitab. Bahkan sebagian lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud ahli kitab hanyalah mereka yang punya darah asli dari keturunan yahudi dan nasrani saja. Maksudnya dari keturunan Bani Israil saja. Sedangkan ras manusia di luar keturunan Bani Israil, tidak termasuk ahli kitab.

Pendapat yang lain mengemukakan bahwa saat sekarang ini sudah tidak ada lagi siapa yang disebut sebagai Ahli Kitab, karena kitab-kitab mereka telah mengalami penyelewengan, bahkan sebelum Al Qur ‘an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Hal ini dikemukakan dalam Al Qur’an,

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, sedang mereka mengetahui.” (QS Al Baqarah : 75)

Beberapa penyelewengan yang dilakukan oleh Umat Yahudi dan Nashrani terhadap kitab yang diturunkan oleh Allah swt, adalah dengan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang dianggap sebagai putera Tuhan. Hal ini ditegaskan dalam Al Qur’an,

Orang-orang Yahudi berkata, Uzair itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allahlah mereka ; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS At Taubah : 30)

Ayat di atas menegaskan bahwa sebelum Al Qur’an diturunkan kepada Nabi saw, Umat Yahudi telah melakukan suatu kekafiran dan kemusyrikan dengan mempersekutukan Allah swt. Ini mungkin dapat memberikan suatu pengertian kepada Umat Islam, bahwa sebutan Ahli Kitab tidak dapat diperuntukkan kepada Umat Yahudi.

Hal ini juga terjadi terhadap Umat Nashrani, adanya penyesatan yang dilakukan oleh segolongan Bani Israil terhadap Injil, di mana penyelewengan terbesarnya adalah anggapan bahwa Nabi Isa as adalah Anak Allah. Maka mereka digolongkan Allah ke dalam golongan orang yang kafir. Allah berfirman,

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam’, padahal Al-Masih (sendiri) berkata, ‘Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu’, Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang zhalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada sesembahan selain dari Allah Yang Mahaesa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah: 72-73)

Ayat di atas dapat dijadikan dalil untuk mengemukakan bahwa Umat Kristen saat ini tidak lagi bisa disamakan dengan Umat Nashrani sebagai golongan Ahli Kitab. karena Umat Nashrani juga telah mengalami penyelewengan jauh sebelum Al Qur’an diturunkan.

Namun begitu, Nabi saw melarang Umat Islam untuk mendustakan golongan Ahli Kitab, walaupun kita tidak boleh mempercayai mereka. Dalam sebuah riwayat, dari Abu Hurairah ra, ia berkata “Dahulu, Ahli Kitab membaca Kitab Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkannya ke dalam bahasa Arab untuk kaum Muslimin. Maka Rasulullah SAW bersabda,

Janganlah kalian benarkan perkataan Ahli Kitab dari jangan pula kalian dustakan mereka, akan tetapi katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami’.” (HR Bukhari)

9 responses to “Saat ini Masihkah Ahli Kitab?

  1. Masukan dari saya, bagaimana kalau tulisan anda disertai footnote/referensi agar bisa dirujuk. satu hal yang ingin saya tanyakan, apakah pengertian jumhur ulama tentang ahlul kitab? Apakah ia hanya dari golongan yahudi dan nasrani saja? Atau termasuk agama-agama lain di luar keduanya? Sertakan juga referensi kalau bisa. Syukron, jazakallah.

  2. Syukran Katsira, saudara/i arma, atas masukan yang anda berikan, mungkin itu kekurangan postingan saya yang harus saya lengkapi…

    Menurut jumhur ulama, Ahli Kitab adalah orang-orang yang kepadanya diturunkan Al Kitab (Taurat dan Injil).
    Taurat dan Injil diturunkan masing-masing kepada kaum Yahudi dan Nashrani, yang keduanya dari keturunan Bani Israil… Namun keduanya telah menyelewengkan ajaran Al Kitab itu sendiri…

    Satu hal, Ahli Kitab itu ditujukan untuk segolongan ummat yang menerima kitab Allah, sehingga kaum yang mengamalkan ajaran diluar landasan kitab Allah (agama Hindu, Budha, dll) bukan disebutkan dengan Ahli Kitab. Dan Allah telah meridhoi satu jalan bagi hambaNya yaitu Islam.

    Note= Kristen nerupakan suatu istilah bagi orang yang percaya akan Yesus Kristus anak Tuhan sebagai juru selamat. Sehingga Kristen sebagai agama tidak dapat disamakan dengan Nashrani sebagai kaum yang termasuk golongan Ahli Kitab.
    Dan ajaran kristen ini adalah salah satu bentuk penyelewengan Ahli Kitab.
    Wallahu A’lam

    Referensi

    Almanhaj.or.id – Kitab-Kitab Yang Ada Pada Ahli Kitab
    SwaraMuslim.net – Benarkah Ahli Kitab Sekarang Sama dengan di Masa Nabi?

  3. Ana sangat setuju dan mengucapkan terima kasih kepada yang menytakakan dan mengatakan, bahwa : Orang – orang keristen yang hidup sampai hari ini bukan AHLI KITAB.

  4. Terima Kasih akhi Fakhri telah ikut mengomentari postingan saya….

    Untuk zaman sekarang apa yang dimaksud dengan ahli kitab yang ditujukan bagi umat Yahudi dan Nasrani tidak lagi bisa disandangkan dengan umat Kristen ataupun Yahudi saat ini.

  5. amrun nasution

    terimakasih atas postingnya

  6. I am a fan of superior writing. I hope tto become a blog writer myself, but it
    isn’t easy for me, putting my words out there. I feel exposed.
    Do you feel like that?

  7. Dalam tradisi Islam, para mufassir senantiasa berpendapat, bahwa istilah Ahlul Kitab merujuk pada dua komunitas: Yahudi dan Nashrani. Dalam perkembangannya, sebagian kalangan mengembangkan pengertian Ahlul Kitab hingga semakin jauh dari apa yang telah dikaji oleh para ulama di masa lalu. Kata mereka, Ahlul Kitab dapat mencakup semua agama yang memiliki kitab suci; atau umat agama-agama besar dan agama kuno yang masih eksis sampai sekarang; seperti golongan Yahudi, Nashrani, Zoroaster; Yahudi, Majusi, Shabi’in, Hindu, Budha, Konghucu, dan Shinto. (Lihat, misalnya, Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (1992), dan Huston Smith, kata pengantar dalam Frithjof Schuon, The Trancendent Unity of Religions, (1984)).

    Klaim ini disandarkan atas argumen bahwa setiap kaum telah diutus bagi mereka nabi-nabi yang membawa risalah tauhid; umat-umat terdahulu berasal dari satu kesatuan kenabian; setiap kaum memiliki sirath, sabil, syari’ah, thariqah, minhaj, mansakhnya masing-masing. Sebagian kalangan menarik kesimpulan lebih jauh lagi: karena penganut semua agama dianggap sebagai Ahlul Kitab, maka tidak ada bedanya antara Islam dengan agama-agama yang lain. Bahkan, semuanya akan selamat di akhirat kelak.

    Pandangan-pandangan semacam ini jelas bertentangan dengan pandangan para mufassir di masa lalu dalam tradisi intelektual Islam. Sebagai contoh al-Thabary (w. 310 H), al-Qurthuby (w. 671 H), dan Ibn Katsir (w. 774 H) mengatakan bahwa term Ahli Kitab tertuju kepada komunitas Yahudi dan Nashrani. (Al-Thabari, Tafsir al-Thabari, juz. 5, (Kairo: Hajar, cet. I, 2001). Juga: al-Qurthuby, al-Jami’ li al-Ahkam al-Qur’an, jil. II, (Beirut: Muassasah al-Risalah: cet. I, 2006), Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, jil. II, (Giza: Mu’assasah Qordhoba-Maktabah Aulad al-Syaikh li al-Turats, cet. I, 2000)).

    Lebih khusus lagi, Imam al-Syafi’i (w. 204 H) berpendapat bahwa yang termasuk Ahli Kitab hanyalah pengikut Yahudi dan Nashrani dari Bani Israil saja. (Muhammad ibn Idris al-Syafi’i, Al-Umm, jil. 6, diedit oleh Rif’at Fauzi ‘Abd al-Mathlab, (T.Tmpt: Dar al-Wafa’, cet. I, 2001).

    Istilah dalam al-Quran

    Term Ahlul Kitab disebutkan secara langsung di dalam al-Qur’an sebanyak 31 kali dan tersebar pada 9 surat yang berbeda. Kesembilan surat tersebut adalah al-Baqarah, Al ‘Imran, al-Nisa’, al-Maidah, al-Ankabut, al-Ahzab, al-Hadid, al-Hasyr, dan al-Bayyinah. Dari kesembilan surat tersebut hanya al-Ankabut lah satu-satunya yang termasuk dalam surat Makkiyah dan selebihnya termasuk dalam surat-surat Madaniyah.

    Ini mengisyaratkan bahwa interaksi dengan Ahlul Kitab baru berjalan intensif tatkala Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di Madinah. Ini dikarenakan bahwa di Kota Makkah sendiri pada waktu itu (periode Makkah) penganut agama Yahudi sangat sedikit. Adapun yang dihadapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam dakwahnya adalah kaum musyrik penyembah berhala. (Muhammad Galib Mattola, Ahl al-Kitab: Makna dan Cakupannya, (Jakarta: Paramadina, cet. I, 1998), Muhammad Izzah Daruzah, al-Yahud fi al-Qur’an al-Karim, (Al-Maktab al-Islami, tanpa tempat dan tahun), M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007)).

    Istilah Ahlul Kitab pada surat al-Ankabut ayat 46 sendiri, menurut al-Thaba’thaba’i ialah umat Yahudi dan Nashrani. (Muhammad Husayn al-Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, juz. 16, (Beirut: Mu’assasah al-‘Alami al-Mathbu’ah, 1983)). Pada ayat itu, dijelaskan bahwa umat Islam dilarang berdebat dengan Ahlul Kitab kecuali dengan cara yang lebih baik. Ini adalah tuntunan agar umat Islam melakukan interaksi sosial dengan Ahlul Kitab dengan cara yang baik. Artinya, perbedaan pandangan dan keyakinan antara umat Islam dan Ahli Kitab tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan bersosialisasi. Menurut Yusuf Qaradhawi, hal ini dikarenakan Islam sangat menghormati semua manusia apapun agama, ras dan sukunya. (Yusuf Qaradhawi, Mauqif al-Islam al-‘Aqady min Kufr al-Yahud wa al-Nashara, (Kairo: Maktabah Wahbiyah, 1999).

    Istilah Ahlul Kitab sendiri ditemukan lebih bervariasi pada ayat-ayat Madaniyah. Meski demikian, semuanya tetap ditujukan kepada Yahudi dan Nashrani atau salah satu dari mereka. Senada dengan itu, Abdul Mun’im al-Hafni juga membatasi bahwa yang dimaksud Ahli Kitab adalah Yahudi dan Nashrani. (Abdul Mun’im al-Hafni, Mausu’ah al-Harakat wal Mazahib al-Islamiyah fil ‘Alam, dalam Muhtarom (penj), Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, cet. I, 2006).

    Kedudukan Ahlul Kitab

    Dalam pandangan Islam, status Ahlul Kitab jelas termasuk kategori kufur. Menurut Imam al-Ghazali (w. 505 H) kufur berarti pendustaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ajaran yang dibawanya. (Abu Hamid al-Ghazali, Fayshol al-Tafriqoh Baina al-Islam wa al-Zindiqoh, (Tanpa tempat dan penerbit, cet. I, 1992). Abu Zahrah mengatakan bahwa mengingkari (kufur) Muhammad berarti mengingkari syariat Allah secara keseluruhan. Ini karena, syariat yang dibawa Nabi Muhammad merupakan pelengkap dan penutup syariat Allah. (Muhammad Abu Zahrah, Zuhrotu al-Tafasir, jil. II, Kairo: Daar al-Fikr al-‘Araby, t.thn)).

    Inilah yang dimaksud oleh al-Thabary sebagai ukuran keimanan bagi Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani). Yakni, pembenaran mereka terhadap kenabian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ajaran yang dibawanya. (Ibn Jarir al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Juz. 2). Bahkan Ibn Katsir lebih menekankan bahwa kedua kelompok tersebut jika tidak mengikuti Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak meninggalkan sunnah Nabi Isa dan Kitab Injil, maka akan binasa.

    Lebih jauh dikatakan Ibn Katsir: “(Ukuran) keimanan orang-orang Yahudi adalah jika mereka berpegang kepada Taurat dan sunnah Nabi Musa hingga datang periode Nabi Isa. Pada periode Nabi Isa, orang-orang yang berpegang pada Taurat dan sunnah Nabi Musa dan tak mengikuti Nabi Isa, maka mereka akan binasa. Sementara (ukuran) keimanan orang-orang Nashrani adalah jika berpegang kepada Injil dan syari’at Nabi Isa.

    Keimanan orang tersebut dapat diterima hingga datang periode Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pada periode Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, orang yang tidak mengikutinya dan tidak meninggalkan sunnah Nabi Isa dan Kitab Injil, maka binasa.” (Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, jil. I).

    Abu al-Hasan al-Nadwy menggambarkan bahwa keadaan dunia ini sebelum datangnya Muhammad ibarat gedung yang nyaris runtuh oleh gempa amat dahsyat. Para penguasa menjadikan bumi Allah sebagai panggung sandiwara kesenangan, hamba-hamba Allah diperbudak para rahib dan pendeta menjadi tuhan-tuhan selain Allah, manusia-manusia merampas hak milik orang lain dengan dengan cara yang tidak benar dan menghalangi orang dari perjuangan di jalan Allah. (Abu al-Hasan al-Nadwy, Madza Khasira al-‘Alam bi Inkhitat al-Muslimin, (Kairo: Maktabah al-Iman, t.thn).

    Ini menunjukkan bahwa memang keadaan manusia pada waktu itu, baik dari segi sosialnya bahkan akidahnya, benar-benar mengkhawatirkan. Masyarakat Musyrik ‘Arab, golongan Yahudi dan Nashrani menjadikan patung-patung, para rahib dan pendeta sebagai tuhan-tuhan. Maka, amat sangat perlu diutus seorang Rasul untuk memurnikan akidah mereka, yakni Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan mereka wajib mempercayainya dan ajaran yang dibawanya.

    Ini menunjukkan relevansi pernyataan kedua ulama (al-Thabary dan Ibn Katsir) sebelumnya, bahwa ukuran keimanan Yahudi dan Nashrani adalah dengan memeluk Islam. Perintah ini sejatinya sudah dikabarkan oleh Kitab Suci mereka sendiri. Namun seakan mereka tidak mendengar dan malah menyembunyikan kabar tersebut. Al-Qur’an mengabarkan pembangkangan mereka dalam surat Al ‘Imran: 71: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?”

    Menanggapi ayat tersebut, para Mufassir menjelaskan bahwa Ahli Kitab menyembunyikan kabar tentang kenabian Muhammad di dalam Kitab Suci mereka, Taurat dan Injil. (Al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Jil. V, Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Jil. III.; Ibn ‘Athiyyah, al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, jil. I, (Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. 1, 2001).

    Menyembunyikan kenabian Muhammad berarti menyembunyikan datangnya agama Islam. Menurut al-Thabary, inilah yang menyebabkan mereka disebut kafir. Secara eksplisit, Ahli Kitab diidentifikasi sebagai orang-orang kafir sebagaimana halnya orang-orang musyrik. Dalam surat al-Bayyinah: 1 Allah berfirman, “Orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.”

    Istilah kufur dalam ayat tersebut, menurut Ibn ‘Asyur, ialah orang-orang yang menentang dan menolak kerasulan Muhammad. (Ibn ‘Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, jil. XXX). Kekafiran Ahli Kitab dalam ayat ini sangat jelas, sama halnya dengan kekafiran orang musyrik, yakni sama-sama menentang dan menolak ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

    Inilah perspektif Islam dalam perspektif teologis dalam memandang Ahlul Kitab. Keyakinan ini tentu wajib dihormati, sebagaimana kaum Muslim juga menghormati keyakinan-keyakinan lain. Konsep ideal adalah: keyakinan terjamin, kerukunan terjalin.

  8. ahli kitab itu adalah yahudi dan nasrani, dan akan selalu ada hingga hari kiamat. gue denger penjelasan ust. khalid Basalamah. dengan dalil dan penjelasan dari ulama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s