Jihad seorang Mukmin di Jalan Allah


bismillah1Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.(QS. An Nisa: 95)

Dalam kehidupan di dunia, setiap manusia dihadapkan pada hambatan dan tantangan. Dan bagi setiap mukmin, Allah menyerukan untuk mengambil tindakan terhadap hambatan dan tantangan yang ditujukan terhadap Islam dan ummatnya. Dan Allah akan memberikan ganjaran bagi orang-orang yang dengan ikhlas melaksanakannya. Segala tindakan yang diambil dalam hal memperjuangkan Islam (berjuang di jalan Allah) dari segala hambatan, tantangan maupun ancaman, disebut dengan Jihad.

Secara bahasa (etimologi) kata jihad berasal dari bahasa Arab yang berarti kekuatan usaha, susah payah dan kemampuan. Sedangkan menurut pengertian syar’i (terminologi), Jihad adalah segala usaha dan upaya yang dilakukan, baik perbuatan maupun perkataan, untuk melawan musuh-musuh Islam yaitu orang-orang kafir dan orang-orang yang membenci Islam. Allah swt berfirman di dalam Al Qur’an,

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.(QS. Al Baqarah: 217)

Pada ayat di atas, Allah swt dengan tegas mengatakan bahwa orang-orang yang kafir akan selalu berusaha dengan sekuat tenaga mereka, tanpa mengenal lelah untuk mengajak kaum mu’min untuk mengikuti langkah mereka untuk kembali kepada jalan yang dimurkai oleh Allah swt. Sehingga sangat pantaslah, jika Allah swt memberikan penilain khusus kepada orang-orang yang berusaha untuk melawan upaya dari orang-orang kafir yang memusuhi Islam. Dan Allah swt juga telah menetapkan ganjaran neraka bagi orang-orang yang mengikuti ajakan kaum kafirin.

Hukum dan Ganjaran Jihad

Empat Imam Madzhab dan lainnya telah sepakat bahwa jihad fii sabiilillaah hukumnya adalah fardhu kifayah, apabila sebagian kaum Muslimin melaksanakannya, maka gugur (kewajiban) atas yang lainnya. Kalau tidak ada yang melaksanakan-nya maka berdosa semuanya. Para ulama menyebutkan bahwa jihad menjadi fardhu ‘ain pada tiga kondisi:

  1. Apabila pasukan Muslimin dan kafirin (orang-orang kafir) bertemu dan sudah saling berhadapan di medan perang, maka tidak boleh seseorang mundur atau berbalik.
  2. pabila musuh menyerang negeri Muslim yang aman dan mengepungnya, maka wajib bagi penduduk negeri untuk keluar memerangi musuh (dalam rangka mempertahankan tanah air), kecuali wanita dan anak-anak.
  3. Apabila Imam meminta satu kaum atau menentukan beberapa orang untuk berangkat perang, maka wajib berangkat.

Allah swt menegaskan kewajiban berjihad di dalam beberapa ayat di Al Qur’an, di antaranya:

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci se-suatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.(QS. Al Baqarah: 216)

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu : Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah kamu merasa berat dan ingin tinggal ditempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenimatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. At Taubah: 38-39)

Dalam pada itu, syarat yang mewajibkan Jihad atas mereka yang beriman adalah:
1. Setiap Muslim.
2. Baligh.
3. Berakal.
4. Merdeka.
5. Laki-laki.
6. Mempunyai kemampuan untuk berperang.
7. Mempunyai harta yang mencukupi baginya dan keluarganya selama kepergiannya dalam berjihad.

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang memberi perbekalan kepada orang yang akan berperang maka sungguh dia telah (turut) berperang. Dan siapa yang memberikan bekal bagi keluarga yang ditinggalkan (oleh orang yang berjihad) maka sungguh ia telah (turut) berperang. (HR. Muslim)

Sesungguhnya orang-orang yang telah mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah swt, untuk memerangi orang-orang kafir yang memusuhi agama Allah, mereka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal dari Allah swt, yaitu surga. Maka tidak sia-sialah usaha dan upaya yang mereka lakukan dala rangka membela dan mempertahankan Islam. Allah swt berfirman,

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.(QS At Taubah: 111)

Allah juga menegaskan dalam firman-Nya,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang sejati (imannya).(QS. Al Hujurat: 15)

Bentuk-Bentuk Jihad

Jihad ataupun perjuangan di Jalan Allah dalam menegakkan ajaran Islam, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Berdasarkan bentuk-bentuknya, jihad dapat dikategorikan ke dalam 3 bagian:

1. Jihad menundukkan hawa nafsu

Berjihad dalam menundukkan hawa nafsu dapat dimulai dengan mempelajari ajaran agama Islam demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan ilmu yang telah diperoleh, karena ilmu tanpa amal adalah tidak berarti, dan bahkan membahayakan. Setelah itu, jalankanlah dakwah berdasarkan ilmu yang benar dan praktik nyata. Dan diselesaikan dengan menekankan diri agar sabar terhadap cobaan dakwah berupa gangguan manusia, karena dalam menyampaikan suatu ajaran yang lurus, sudah pasti syaithan ada di antara orang-orang di sekitar kita.

2. Jihad melawan syaithan

Berjihad dalam melawan pemikiran setan berupa syubhat dan keragu-raguan yang dapat merusak keimanan adalah dengan keyakinan kita. Dan dapat dilakukan dengan mempelajari Islam secara kaffah. Kemudian melawan setan yang membisikan agar terjerumus kepada syahwat hawa nafsu dengan bersabar dan menahan diri dengan berpuasa.

3. Jihad melawan kaum kufar dan munafikin

Berjihad melawan kaum kafir dan munafik dapat dilakukan dengan kekuatan, harta, lisan dan dengan qalbu. Adapun jihad melawan kaum kuffar lebih utama dengan tangan (kekuasaan), sementara terhadap kaum munafikin dilakukan dengan lisan.

Ada juga jihad melawan kezaliman, kemungkaran, dan bid’ah yang ditempuh melalui tiga cara. Berjihad dengan tangan (perbuatan/kekuasaan) kalau mampu. Kalau tidak mampu dengan perbuatan, maka berjihadlah dengan lisan. Kalau masih tidak mampu, maka yang terakhir dengan hati. (HR Muslim).

Rasulullah saw bersabda, “Jihad yang utama adalah perkataan yang benar (dalam riwayat lain: perkataan yang adil, pen.) di hadapan penguasa zalim.(HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Allah sangat menganjurkan kepada umat Islam yang beriman untuk berjuang dan memperjuangkan keimanannya dalam Islam selama hidupnya. Dan setiap hal yang dilakukan yang menuju ke arah perjuangan di Jalan Allah, itu adalah termasuk ke dalam jihad. Oleh karena itu, bekerja menafkahi keluarga dan menuntut ilmu (kebaikan) itu adalah termasuk ke dalam jihad. Dan mati dalam rangka jihad adalah mati syahid, dan Allah telah menjanjikan surga sebagai balasannya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berjihad. Amiin…

Sumber:

1. Almanhaj.or.id – Kategori Jihad Fii Sabilillah.
2. KebunHikmah.com – Sekilas Mengenai Makna Jihad dan Jenis-jenisnya.

9 responses to “Jihad seorang Mukmin di Jalan Allah

  1. 1. Jihad menundukkan hawa nafsu

    Berjihad dalam menundukkan hawa nafsu dapat dimulai dengan mempelajari ajaran agama Islam demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan ilmu yang telah diperoleh, karena ilmu tanpa amal adalah tidak berarti, dan bahkan membahayakan. Setelah itu, jalankanlah dakwah berdasarkan ilmu yang benar dan praktik nyata. Dan diselesaikan dengan menekankan diri agar sabar terhadap cobaan dakwah berupa gangguan manusia, karena dalam menyampaikan suatu ajaran yang lurus, sudah pasti syaithan ada di antara orang-orang di sekitar kita.

    …..? dasarnya….?

  2. Saudara Gustri, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas komentar anda terhadap postingan saya, ini demi perbaikan postingan saya di masa mendatang…

    Jihad yang paling awal itu harus dimulai dari diri sendiri, karena jika tiap orang mau berjihad melawan keburukan dalam dirinya sendiri, maka insya Allah jihad untuk yang lebih lagi dapat dilakukan. Keburukan diri sendiri itu berawal dari hawa nafsu di dalam hati, dan syaithan punya andil dalam mengedepankan hawa nafsu dalam perbuatan kita.

    Rasulullah bersabda,

    الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ

    Yang bernama mujahid adalah mereka yang memerangi dirinya. (HR at-Tirmidzi).

    Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda,

    رَجَعْنَا مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلىَ اْلجِهَادِ اْلأَكْبَرِ. قَالُوْا: وَمَا اْلجِهَادُ اْلأَكْبَرُ؟ قَالَ: جِهَادُ النَّفْسِ

    Kita baru kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” Para sahabat bertanya, “Apakah jihad besar itu?” Rasul menjawab, “Jihad melawan hawa nafsu.”

    Kita akan lebih bisa mengendalikan hawa nafsu kita jika kita mengetahui apa-apa yang diperintahkan Allah swt dan apa-apa yang dilarangNya. Yaitu dengan mempelajarinya. Dan bukan hanya itu, kita juga hendaknya mengaplikasikan apa yang telah kita ketahui di dalam perbuatan kita. Setelah itu, barulah kita mengajak orang lain untuk mengamalkannya…

    Wallahu A’lam

  3. maaf nih, saya harus tulis panjang…maaf ya…panjang…

    FITNAH TERHADAP JIHAD

    Bantahan Atas Jihad Melawan Hawa Nafsu
    Oleh: Abu Khubaib & Abu Zubair

    Diantara kesalahan tentang pemahaman Jihad yang menyebabkan ummat enggan untuk melaksanakannya adalah pemahaman jihad besar (jihad melawan hawa nafsu) dan jihad yang lebih rendah. Seiring dengan keyakinan ini, berjuang melawan hawa nafsunya sendiri dipertimbangkan sebagai jihad yang terbesar, yang menjadikan jihad dengan berperang di medan pertempuran merupakan jihad yang paling rendah. Pemahaman ini didasarkan atas cerita yang disebutkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam bukunya, sejarah Baghdad, dari Yahya Ibnu al ‘Ala’ berkata,

    “Kami mendapatkan kabar dari Laith dari ‘Ata’, dari Abu Rabah, dari Jabir mengatakan bahwa, “Sekembalinya Nabi saw dari perang, Beliau mengatakan kepada kami, “Telah datang kepadamu berita yang baik, kamu datang dari jihad yang rendah kepada jihad yang lebih besar yaitu seorang hamba Allah yang berjuang melawan hawa nafsunya.”

    Konsepsi ini walaupun secara fakta didasarkan atas sebuah hadits, akan tetapi hadits ini dapat disangkal dari beberapa aspek, yang akan kami sebutkan berikut ini.

    Pertama:

    Hadits ini tidak bisa digunakan untuk sebuah hujjah, karena al-Baihaqi berkata berkaitan dengan ini, “mata rantai dari periwayatannya adalah lemah (dha’if).” As-Suyuti juga berpendapat bahwa aspek hukumnya lemah, hal ini beliau utarakan dalam bukunya, Jami’ As-Shaghir.

    Sebagian orang mungkin mengatakan bahwa hadits dha’if bisa diterima dalam persoalan keutamaan amal. Pendapat ini tidak bisa diterima, karena kami tidak percaya bahwa jihad bisa digunakan untuk keutamaan amal. Jika hal itu memang benar, bagaimana mungkin Rasulullah saw. bersabda bahwa, “Diamnya ummat ini adalah penghianatan terhadap jihad”

    Selanjutnya, siapapun yang mengikuti Yahya Ibn al-‘Ala’, sebagai seorang perowi hadits maka akan menemukan dalam biografinya sesuatu yang akan menyebabkannya meninggalkan hadits tersebut.. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata (berpendapat) tentangnya dalam At-Taqrib, “Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits”. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan, “ Abu Hatim berkata bahwa dia bukanlah seorang perowi yang kuat, Ibnu Mu’in menggolongkannya sebagai perawi yang lemah. Ad-Daruqutni berkata bahwa dia telah dihapuskan (dalam daftar perawi) dan Ahmad bin Hanbal berkata “ Dia adalah seorang pembohong dan pemalsu hadits”.

    Kedua:

    Hadits ini secara tegas dan jelas bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

    “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa’,4: 95-96).

    Ketiga :

    Hadits ini (hadits tentang jihad melawan hawa nafsu) bertentangan dengan hadits-hadits mutawatir yang disampaikan oleh Nabi saw., yang menjelaskan tentang keutamaan jihad. Kami akan menyebutkan beberapa diantaranya.

    “Waktu pagi atau sore yang digunakan di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Bukhari dan Muslim)

    “Berdiri satu jam dalam perang di jalan Allah lebih baik daripada berdiri dalam shalat selama 60 tahun.” (shahih al-Jami’)

    Abu Hurairah ra berkata,

    “ Apakah ada diantara kamu yang mampu berdiri dalam shalat tanpa berhenti dan terus melakukannya sepanjang hidupnya?” Orang-orang berkata, “Wahai Abu Hurairah! Siapa yang mampu melakukannya?” Beliau berkata “Demi Allah! Satu harinya seorang mujahid di jalan Allah adalah lebih baik daripada itu.”

    Pernyataan dari orang yang mengatakan bahwa “Berjuang melawan dirinya sendiri adalah jihad yang terbesar karena tiap individu mendapatkan ujian siang dan malam”, dapat disangkal dengan hadits berikut:

    Dari Rasyid, dari Sa’ad r.a., dari seorang sahabat, seorang laki-laki bertanya, “ Ya Rasulallah! Kenapa semua orang-orang yang beriman mendapatkan siksa kubur kecuali orang-orang yang syahid?” Beliau saw. menjawab: “Pertarungan dari pedang di atas kepalanya telah cukup sebagai siksaan (ujian) atasnya.” (Shahih Jami’)

    Keempat :

    Kesalahpahaman dan fitnah ini termasuk dalam bentuk ketidak adilan dan salah dalam menempatkan status para mujahid.

    Allah ta’ala telah memerintahkan kita untuk menegakkan keadilan sebagaimana dalam firman-Nya,

    “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
    (QS. Al Maidah, 5: 8).

    Apakah adil, kita mengatakan perang yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di medan perang adalah jihad yang paling rendah? Ketika dalam hitungan menit saja tubuh-tubuh mereka meledak, berpencarlah kaki-kaki mereka, tubuh-tubuh mereka melayang (mengambang) di air, darah berceceran dimana-mana, sampai-sampai jenazah-jenazah mereka tidak bisa dikuburkan (karena telah hancur).

    Itu semua mereka lakukan untuk mendapatkan keridhoan-Nya. Dimana letak kerendahan dari jihad yang dilakukan oleh pemuda-pemuda tadi jika dibandingkan dengan aktivitas puasa kita, yang berbuka dengan makanan lezat, lalu bagaimana mungkin aktivitas puasa itu dinilai sebagai jihad yang paling besar? Demi Allah! Ini adalah pemberian nilai yang tidak sesuai, jika anda menyampaikan permasalahan ini sebelumnya pada generasi pertama (Islam) maka mereka tidak akan pernah menyampaikan pandangan hukum berbeda.

    Kelima:

    Dr.Muhammad Amin, seorang penduduk Mesir berkata dalam kitabnya, bagian dari dakwah Islam adalah jihad dengan dirinya sendiri, adapun jihad dengan harta tidak menunjukkan atas penegakkan seruan atas kebenaran dan berpendirian di atas kebenaran, menyeru kepada kebenaran dan melarang kemunkaran serta memberikan kontribusi hidup dan hartanya di jalan Allah merupakan jihad yang kurang sempurna. Ini adalah ungkapan yang aneh!!!

    Tatkala kita ditimpa ujian yang sangat berat dimana kaki ikut terguncang dan hati selalu was-was akan ancaman, bisakah itu disebut jihad yang rendah? Ketika kita merasakan keadaan aman dan nyaman di rumah, berkumpul dengan keluarga dan teman-teman, bisakah ini disebut dengan tingkatan jihad yang tertinggi ! Keadaan ini seperti ungkapan seseorang yang gembira dalam keadaan duduk membelakangi perintah Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya. Seperti orang yang mendapati kesenangan dan kenyamanan dalam hidupnya padahal realitanya mereka hanya menipu jiwa mereka sendiri yang lemah karena nilai-nilai kebenaran amal seluruhnya mereka tentang.

    Di akhir tulisan ini, kami kutipkan beberapa kalimat yang telah dikirim oleh seorang mujahid Abdullah bin Al-Mubaraq dari tanah jihad kepada temannya Al-Fudail bin Iyyad, orang yang menasihati para penguasa dan membuatnya menangis, beliau tidak meminta bayaran akan tetapi murni muncul dari keikhlasan.

    يَاعَابِدَ الْحَرَمَيْنِ لَوْ أَبْصَرْتَنَا
    لَعَلِمْتَ أَنَكَ بِالعِبَادَةِ تَلْعَبُ
    مَنْ كَانَ يَخْضَبُ خَدُهُ بِدُمُوْعِهِ
    فَنُحُوْرُنَا بِدِمَائِنَا تَتَخَضَبُ

    “ Wahai orang yang beribadah di Masjid Haromain, seandainya engkau melihat kami tentu engkau tahu bahwa engkau dalam beribadah itu hanya main-main saja, kalau orang pipinya berlinang air mata, maka, leher kami dilumuri darah “

    Pertimbangan Jihad

    Sebagian orang mungkin heran ketika mereka mendengar orang yang menggambarkan jihad (di medan perang) adalah jihad yang terendah atau orang yang menganggap berperang di jalan Allah merupakan aktivitas yang kecil dibandingkan dengan perbuatan yang lain. Jika kita menelusuri kehidupan orang-orang tersebut, melihat sejarah mereka dan mempelajari alasan-alasan mereka atas penolakan persoalan ini, maka akan kita temukan bahwa penjelasan atas pendirian mereka adalah sangat sederhana. Orang-orang tersebut meremehkan jihad dan memberikan prioritas kepada studi di Universitas, menulis di majalah-majalah dan berpidato di konferensi-konferensi untuk mengakhiri perang dan mengakhiri aksi syahid. Dengan melihat kehidupan mereka, maka akan ditemukan sebuah ancaman terhadap kesatuan ummat, karena ummat ini akan digiring pada pandangan mereka.

    Ummat akan merasa bahwa dirinya lemah dan menahan diri dari aktivitas jihad (mereka hanya menerima teori dan konsepnya saja) akan tetapi tidak berpartisipasi dalam jihad. Tidak ada keinginan atas dirinya untuk bersama-sama dengan orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah (Syahid), mereka juga menganggap tidak memiliki keuntungan untuk bergabung dengan camp-camp mujahid. Sebuah camp yang serba sederhana, jauh dari kemewahan dan kekurangan akan bahan pokok, yang akan menjadikan mereka merasakan perbedaannya antara kehidupan di camp tersebut dengan kehidupan yang dijalaninya di universitas yang penuh dengan makanan-makanan, hiburan dan ruangan kelas yang berAC.

    Bagaimana mungkin orang-orang tersebut dapat menerima kebenaran nilai dari jihad ketika mereka tidak berpartisipasi dalam dunia perang, tidak juga masuk ke dalam arena kerusuhan dalam perang?

    Jika seorang terjun ke dalam sebuah pertempuran maka cukup untuk membenarkan atas semua kesalahpahamannya. Seorang mujahid, hanya dalam hitungan beberapa jam saja dapat melihat segala sesuatu yang menakutkan yang akan menyebabkan rambut anak-anak pun menjadi beruban. Bom-bom yang meledak akan membersihkan jiwa-jiwa saudara-saudara kita yang kita cintai yang ikut andil dalam perjuangan dan jihad. Mereka akan melihat bagaimana situasi dari orang-orang ketika roket-roket meledak di atas kulit kepala mereka atau di bawah kaki mereka? Bagaimana situasi ketika mereka melihat dengan mata kepala sendiri anggota tubuh seperti lengan, kaki dan usus hancur berhamburan, anggota tubuh yang sehat menjadi cacat, hilang ingatan atau lumpuh? Inilah alasan pokok atas penolakan orang-orang yang meremehkan jihad.

    Dalam beberapa jam atau hari seorang mujahid melihat dengan mata kepalanya sendiri bentuk-bentuk kekerasan, ujian dan kesengsaraan yang dialami tatkala jihad, tidakkah yang lainnya melihat hal ini selama 10 tahun terakhir ini? Akan menjadi sesuatu hal yang mustahil bagi seseorang untuk melaksanakan aktivitas jihad secara fisik kecuali ia dapat berpartisipasi di dalamnya. Oleh karena itu orang yang masih berselisih dengan mujahid dalam persoalan jihad ini atau orang-orang menyeru manusia untuk meninggalkan perang maka sebaiknya bergabung dengan camp jihad walaupun hanya sebagai pembantu atau dia seharusnya berpartisipasi dalam perang walaupun hanya sebagai orang yang masak, lalu setelah itu kita akan melihat pendapat-pendapatnya, apakah masih dia mengatakan bahwa pena sebanding atau sama dengan kalashnikov ?

    Wallahu’alam bis showab!

    sumber:
    gurobabersatu.blogspot.com

    _________________________________________________________
    BACA JUGA:
    Tikaman terhadap Jihad fii Sabilillaah

  4. Saudara Gustri, syukran katsira atas pemaparan anda. Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui, tentu saja dapat menilai amal ibadah hamba-hambaNya, yang berawal dari niat yang sungguh-sungguh dari dalam hati mereka.

    Hikmah yang dapat saya petik dari hadits di atas yakni, seseorang yang berjihad memerangi kaum kafir dan musyrik, terlebih dahulu berjihad memerangi hawa nafsu syaithan dari dalam dirinya. Seseorang yang telah ikhlas berperang di jalan Allah, artinya ia telah mengalahkan hawa nafsunya berupa rasa takut dan malas.

    Jika kita tinjau ulang dari makna jihad yaitu bersungguh-sungguh, maka jihad tidak hanya terbatas pada perang dalam pengertian bertempur di medan peperangan. Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dengan suatu perkataan yang baik juga merupakan jihad terhadap ajakan untuk jauh dari taqwa. Jika jihad diidentikkan dengan qital (membunuh dalam perang) akan memperkuat argumen bahwa Islam adalah agama yang didirikan dengan pedang (kekerasan). Ini akan mengaburkan pandangan bahwa Islam adalah jalan selamat lagi menyelamatkan. Bukankah lebih baik kita mengedepankan jalur diplomasi ketimbang konfrontasi untuk menyelesaikan suatu masalah?

    Dalam surah Al Furqan ayat 25, Allah swt berfirman,”Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur`an…

    Dalam ayat ini, Allah menyeru kepada jihad dengan Al Qur’an, di mana dapat dilakukan dengan mempelajari, mengamalkan dan menda’wahkannya. Rasulullah saw adalah suri tauladan yang baik karena amalan-amalan beliau yang dilandaskan Al Qur’an.

    Kemudian dalam surah Al Fath ayat 29 Allah swt menegaskan,”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang beriman dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…

    Arti “keras” pada ayat di atas tidak terbatas pada arti berperang, sehingga tidak dapat disandingkan dengan perkataan “berkasih sayang”, tetapi lebih ditekankan pada keteguhan hati pada ajaran-ajaran Islam itu sendiri sehingga menjaga nilai ketaqwaan kepada Allah swt. Namun jika mereka (orang-orang kafir) mengganggu (fitnah) dengan terang-terangan, apalagi sampai menyakiti Islam ataupun umat Islam, maka berperang (qital) adalah jalan yang diridhoi Allah swt.

    Allah swt berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 193, “Perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi …

    Namun agar kita tidak jauh dari topik di atas, bahwa salah satu bentuk jihad adalah melawan hawa nafsu dari dalam diri sendiri yang ditimbulkan atas godaan syaithan, sehingga menuntut ilmu, beribadah dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh, dan menda’wahkan ajaran Islam. Dan untuk menilai ganjaran atas suatu amalan termasuk jihad, merupakan hak preogratif Allah, yang kita sendiri tidak dapat menentukannya.

    Semoga dapat membantu. Dan semoga Allah swt mengampuni kesalahan-kesalahan saya jika terdapat dalam tulisan ini. Dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.

  5. iya..ya.
    Saya mengerti pemikiran seperti itu.
    kita sama-sama dewasa ya…ini sharing ya.
    saling memaafkan kalau ada kesalahan diantara kita.
    Sepakatkan…? Pasti sepakat.

    “Jihad yang terbesar melawan Hawa Nafsu”.
    Jihad mengalahkan hawa nafsu tidak akan membawa pada Syahid, tapi membawa ketingkat Zuhud.
    Jihad perang akan membawa pada Syahid.
    Pahala apa yang melebihi pahala Syahid…?…

    Apakah seorang yang Zuhudnya sampai level tinggi, hingga mirip pertapa lebih tinggi derajatnya dibanding orang yang berperang di jalan Allah…?

    Jihad dengan Qur’an adalah mengamalkan isi Qur’an. 2/3 dari isi Qur’an adalah perintah Jihad Qital.

    Diatas saya sudah mengutip bantahan terhadap Jihad melawan hawa nafsu berdasarkan Dalil. Karena anda belum bisa menerima, maka saya bantah dengan Logika. Jika belum juga diterima, maka saya tidak akan membantah lagi. Allah berfirman “Hai orang-orang beriman janganlah kamu berbantahan. Berbantah-bantahan akan melemahkanmu…”.

    Saya berterima kasih atas attensinya. Saya merelakandengan Ikhlas jika kita berbeda dalam persepsi, namun saya tetap berharap semoga saudaraku mau meninggalkan dasar aqidah yang palsu-palsu. Tentu tak ada yang bisa memaksakan. Terima kasih.
    Kebenaran datangnya dari dari Allah, kesalahan semata dari hawa nafsu saya.
    saya tidak akan membalas lagi.
    Wallohu ‘alam bishowab.

  6. Saudara Gustri, saya sangat berterima kasih atas argumen-argumen yang anda ajukan.
    Semua itu dapat menjadi improvisasi bagi saya dalam mempelajari Islam secara kaffah.
    Saya bukanlah orang yang sempurna yang sudah pasti memiliki kesalahan hingga saya tidak memiliki alasan untuk tidak mema’afkan kesalahan saudara saya yang se-aqidah.
    Dan saya berharap anda juga mau memaafkan saya.

    Allah swt telah menjanjikan surga bagi mereka yang syahid.
    Dan bentuk jihad yang paling nyata adalah dengan kekuatan yang kita miliki
    dan jihad dengan hati adalah jihad yang paling lemah.
    Dan Allah swt telah menetapkan ganjaran dan tingkatan untuk tiap-tiap amalan hamba-hambaNya…

    Yang ingin saya sampaikan di sini, bahwa hawa nafsu yang ditimbulkan dari bisikan syaithan adalah sesuatu yang harus dilawan.
    Karena syaithan adalah musuh yang nyata, musuh yang menyesatkan dari dalam hati.
    Allah swt berfirman, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuhmu …(QS. Fathir: 6)

    Namun begitu sudah seharusnya saya mengambil dalil yang lebih terbukti keshahihannya.
    Dan di sini saya mungkin mencantumkan suatu dalil yang lemah atau bahkan palsu.
    Sebagai sesama muslim, saya masih mengharapkan komentar anda pada postingan saya.
    Apakah anda akan membiarkan saudara anda dalam kesesatan sedang anda mengetahuinya?

    Semoga Allah menjauhkan saya dari godaan syaithan sehingga saya menggunakan dalil yang palsu untuk membuktikan suatu kebenaran.
    Dan semoga Allah mengampuni saya jika selama ini terdapat saling berbantahan.
    Jazakumullah, Syukran katsiran…

  7. Saya sudah buka-buka di Blog saudara, semuanya Bagus-bagus, sumber sumber referensinya terpercaya. Bagaimana jika saya punya usul….?
    Begini usul saya.

    Anda bikin artikel atas dasar pemahaman anda sendiri kemudian kita diskusikan.
    biar adil anda juga boleh berkunjung di Blog saya anda pilih topik kita diskusikan.
    http://gustrisehat.wordpress.com/

  8. artikelnya bagus dan komentarnya berdasarkan ilmiah. terima kasih telah menambah wawasan saya yang bodoh ini..

    bagi yang sedang mencari informasi penanggulangan bahaya narkoba, HIV/AIDS, dan gangguan Jiwa berbasis ajaran Islam, silahkan mengunjungi blog saya, http://benderahitam.wordpress.com

  9. Aslmkm…mohon infonya apakah yg dimaksud dgn Islam Kaffah.. dan apa titik puncak perjuangan ketika seseorang telah menjadi mukmin….

    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s