Sabar Bagi Seorang Mukmin


kaligrafi-bismillah
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS Al Kahfi : 28 )

Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, setiap manusia dihadapkan pada masalah dan persoalan masing-masing. Berbagai persoalan tersebut ada yang dapat dilalui dengan mudah, dan ada pula yang sangat sulit untuk dilalui. Untuk hal-hal yang sulit dihadapi, maka kita hendaknya terus berusaha melakukan yang terbaik dan mencegah diri dari perbuatan-perbuatan buruk. Inilah yang dibutuhkan oleh seorang mukmin sebagai kekuatan dalam menghadapi segala permasalahan hidup. Dan inilah yang disebut dengan Sabar.

Pengertian Sabar

Kata sabar berasal dari bahasa Arab, yakni shabara yang bermakna mencegah atau menahan. Sedangkan menurut istilah, sabar adalah perbuatan mencegah diri kita dari rasa jenuh dalam berusaha di Jalan Allah, dan menahan perkataan yang mengekspresikan keluhan-keluhan serta perbuatan  yang tidak terarah dalam menghadapi setiap permasalahan dalam kehidupan di dunia.

Dalam Surah Al Kahfi ayat 28 di atas, Allah menyerukan untuk menahan diri dari keinginan ‘keluar’ dari golongan orang-orang yang selalu menyeru Rabb-nya dan mengharapkan keridhoan-Nya. Seruan bersabar pada ayat tersebut juga mencegah keinginan untuk bersama orang-orang yang lalai dari mengingat Allah swt.

Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Al-Khawas, “Sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan. Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang).”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sabar dalam Al Qur’an dan Hadits

Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur’an, baik berbentuk isim maupun fi’ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah swt. Beberapa ayat yang mengemukakan tentang sabar antara lain:

a. Sabar merupakan perintah Allah. Hal ini sebagaimana Allah swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah : 153).

Ayat-ayat yang serupa di antaranya QS. Ali Imran: 200, QS. An-Nahl: 127, QS. Al-Anfal: 46, QS. Yunus: 109, QS. Hud: 115.

b. Larangan isti’jal (tergesa-gesa). Allah swt berfirman:

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…” (QS. Al Ahqaf : 35)

c. Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar: “…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS Al Baqarah: 177)

d. Allah akan mencintai orang-orang yang sabar. “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146)

e. Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. “Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal: 46)

f. Mendapatkan pahala surga dari Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah swt dalam Al Qur’an: (QS. Ar Ra’d: 23 – 24)

Seperti halnya di dalam Al-Qur’an, hadits Rasulullah saw juga banyak sekali menggambarkan dan mendekripsikan kesabaran dan orang yang sabar. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar dapat dipaparkan sebagai berikut:

a. Kesabaran merupakan “dhiya’ yang cahaya yang amat terang. Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu melewati kegelapan hatinya dalam menghadapi masalah. Rasulullah saw mengungkapkan,

…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…(HR. Muslim)

b. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal, dan bukan ada secara sendirinya dalam diri seseorang. Hal ini sebagaimana yang pernah digambarkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits,

…barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…(HR. Bukhari)

c. Kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik. Rasulullah mengatakan, “…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (Muttafaqun Alaih)

d. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah,

Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.(HR. Muslim)

e. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits digambarkan,

Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginya.” (HR. Bukhari)

f. Sabar merupakan sifat para nabi, karena para nabi yang diutus oleh Allah memiliki kesabaran dalam menyampaikan da’wah tauhid kepada kaumnya. Ibnu Mas’ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan:

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata”Seakan-akan aku memandang Rasulullah saw. menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, ‘Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari)

g. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.(HR. Bukhari)

h. Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah menggambarkan dalam sebuah haditsnya,

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullan saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut.(HR. Bukhari & Muslim)

i. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya, apakah kehidupan atau kematian. Dalam sebuah hadits diungkapkan,

Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, ‘Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik untukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku.(HR. Bukhari dan Muslim)

Macam-Macam Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam”, yakni:

1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia (bencana alam) ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Dalam mewujudkan rasa ketaatan kita sebagai seorang mukmin kepada Allah dalam hal amar ma’ruf nahi mungkar, dibutuhkan kesabaran dalam diri kita. Karena dalam mewujudkan ketaatan kepada Allah swt, manusia yang secara sifat dasarnya selalu diiringi dengan nafsu, akan terasa sulit dan enggan. Yang mana hal tersebut dapat disebabkan oleh rasa malas, bakhil, atau bahkan keduanya pada diri seorang insan. Sehingga kesabaran harus ada dalam menjalankan ketaatan kita pada Allah swt. Yang termasuk sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah swt, adalah sabar dalam menuntut Ilmu dan mengamalkannya, sabar dalam beribadah dan beramal sholeh, sabar dalam berda’wah, dan sabar dalam jihad fisabilillah.

Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (ngerumpi), dusta, dan memandang sesuatu yang haram. Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an“.

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…(Thariqul wushul, hal. 15-17)

Setiap mukmin harus ridha dan sabar dalam menerima dan menghadapi segala apa yang terjadi pada dirinya, walaupun hal tersebut sangat menyakitkan, seperti ditinggalkan orang dicintai, kehilangan harta benda, ataupun musibah yang terjadi pada dirinya. Sehingga dengan kesabarannya, seorang mukmin dapat melalui apa saja yang dialaminya sebagai ketetapan Allah swt. Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinaan radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, semua urusannya adalah baik. Tidaklah hal itu didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia tertimpa kesenangan maka bersyukur. Maka itu baik baginya. Dan apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar. Maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Penutup

Sungguh indahnya bagi seorang mukmin yang memiliki kesabaran dalam hatinya yang terwujud dalam setiap perkataan dan perbuatannya, sehingga dalam menjalani hidup dan kehidupannya, ia akan selalu dapat melalui apapun yang dialaminya dengan ridha dan ikhlas. Dan baginya kelak adalah surga sebagai ganjarannya. Hal ini sebagaimana firman Allah swt,

“(yaitu) Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum” (Keselamatan atas kalian sebagai balasan atas kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar Ra’d: 23-24)

Wallahu ‘alam bish shawab

Referensi:

1. Tim Dakwatuna.com, Sabar: Keajaiban Seorang Mukmin, http://www.dakwatuna.com : 2007
2. Abu Mushlih Ari Wahyudi, Hakikat Sabar (1), http://www.muslim.or.id : 2007
3. Abu Mushlih Ari Wahyudi, Hakikat Sabar (2), http://www.muslim.or.id : 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s