Islam dan Tauhid


bismillah Katakanlah: ‘Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia‘.” (QS. Al Ikhlas : 1-4)

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt, dikaruniai hati dan pikiran agar dapat membedakan yang haq dari yang bathil. Sehingga dalam hidup dan kehidupan manusia tetap berada dalam keadaan yang diridhoiNya. Allah swt telah meridhoi Islam sebagai jalan yang selamat lagi menyelamatkan bagi seluruh semesta alam. Dan Allah swt telah menurunkan para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan risalah dan ajaranNya kepada umat manusia sebagai hambaNya. Allah swt telah menyerukan seluruh alam untuk menyembahNya, bahwa Dia adalah Tuhan yang Maha Esa, dan tiada satu pun sekutu bagiNya. Dan Islam adalah satu-satunya agama yang mengajarkan Tauhid yang sesungguhnya.

Pengertian Tauhid

Berdasarkan dari segi bahasa Tauhid berasal dari kata Ahad, Wahid, Yuwahidu, Tauhidan, yang berarti Esa dan Mengesakan. Islam mengajarkan ajaran Tauhid yang berarti bahasa Islam mengajarkan ummatnya untuk mengakui dan meyakini akan keesaan Allah swt, bahwa tiada tuhan melainkan Dia. Islam mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Dia lah Allah. Tauhid merupakan inti dari ajaran Islam, bahwa segala amal ibadah adalah hanya untuk Allah swt, karena Allah swt telah menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepadaNya. Tauhid merupakan suatu pemahaman dan kepercayaan bahwa di seluruh alam semesta ini hanya ada satu kekuasaan tunggal, kekuasaan Allah swt, tanpa ada sekutu ataupun pembantu dalam kekuasanNya. Allah swt berfirman,

Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah ...” (QS. Luqman: 11)

Dalam Islam, mengesakan Allah adalah rukun yang pertama. Jika seseorang masuk Islam, dia harus menyatakan bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a bahwasanya Nabi saw telah bersabda,

Islam ditegakkan di atas lima perkara yaitu mengesakan Allah, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan dan mengerjakan Haji.“ (HR. Bukhori-Muslim)

Rasul Diutus dengan Seruan Tauhid

Nabi Muhammad saw dan para rasul sebelum beliau diutus untuk menyampaikan risalah mengenai ajaran Tauhid. Seruan para rasul yang diutus oleh Allah swt kepada umat manusia adalah untuk menyampaikan kalimat tauhid, yakni bahwa tiada kekuasaan di dunia dan di akhirat selain kekuasaan Allah swt, dan setiap manusia sebagai hambanya hanya sujud dan beramal ibadah hanya karena Allah swt, bukan tuhan selain Dia. Allah swt berfirman,

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.” (QS. Al Kahfi: 110)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” (QS. An-Nahl : 36)

Nabi-nabi sebelum Rasulullah saw, seperti Nabi Ibrahim as dan Nabi Isa as, juga menyampaikan seruan tauhid kepada kaumnya. Allah swt dengan tegas menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim asbenar-benar seorang mukmin yang tidak pernah menyekutukan Allah. Allah swt berfirman,

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” (QS. An Nahl: 120)

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An Nahl: 123)

Begitu juga dengan Nabi Isa as, di mana kaumnya menganggap dirinya adalah Anak Tuhan seperti yang dikisahkan dalam Al Qur’an, padahal Nabi Isa as telah menyerukan pada kaumnya untuk mengesakan Allah dan tidak menyembah sesuatu apapun selain Dia. Mengenai hal ini, dengan tegas Allah swt telah memasukkan ke dalam golongan kafir, orang-orang yang menyatakan bahwa Isa adalah Anak Tuhan yang merupakan jati diri Tuhan itu sendiri. Allah swt berfirman,

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maa-idah: 72)

Macam-Macam Tauhid

Tauhid berdasarkan Al-Qur’anul Karim ada tiga macam:

1. TAUHID RUBUBIYAH
Makna Tauhid Rububiyah yaitu mengesakan Allah swt dalam segala perbuatanNya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk. Allah swt berfirman,

Allah menciptakan segala sesuatu …” (QS. Az-Zumar: 62)

Orang-orang kafir pun mengakui macam tauhid ini. Tetapi pengakuan tersebut tidak menjadikan mereka tergolong sebagai orang Islam. Jadi, jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat mana pun yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Allah swt berfirman,

Dan sungguh, jika Kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka’, niscaya mereka menjawab,’Allah’.(QS. Az-Zukhruf: 87)

2. TAUHID ULUHIYAH

Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyari’atkan seperti do’a, nadzar, kurban, raja’ (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut) dan inabah (kembali/taubat). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir. Allah swt berfiman,

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (QS. Al-Anbiya’ : 25)

Macam tauhid inilah yang diingkari oleh orang-orang kafir. Dan ia pula yang menjadi sebab perseteruan dan pertentangan antara umat-umat terdahulu dengan para rasul mereka, sejak Nabi Nuh as hingga diutusnya Nabi Muhammad saw. Dalam banyak suratnya, Al Qur’an sering memberikan anjuran soal tauhid uluhiyah ini. Di antaranya, agar setiap muslim berdo’a dan meminta hajat khusus kepada Allah semata.

Dalam surat Al-Fatihah misalnya, Allah berfirman,
Hanya Kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah Kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Tauhid uluhiyah ini mencakup masalah berdo’a semata-mata hanya kepada Allah, mengambil hukum dari Al-Qur’an, dan tunduk berhukum kepada syari’at Allah. Semua itu terangkum dalam firman Allah,

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku maka sembahlah Aku.” (QS. Thaha: 14)

3. TAUHID ASMA’ WA SHIFAT

Yaitu beriman terhadap segala apa yang terkandung dalam Al-Qur’anul Karim dan hadits shahih tentang sifat-sifat Allah yang berasal dari penyifatan Allah atas DzatNya. Beriman kepada sifat-sifat Allah tersebut harus secara benar, tanpa ta’wil (penafsiran), tahrif (penyimpangan), takyif (visualisasi, penggambaran), ta’thil (pembatalan, penafian), tamtsil (penyerupaan), tafwidh (penyerahan, seperti yang.banyak dipahami oleh manusia). Misalnya tentang sifat al-istiwa‘ (bersemayam di atas), an-nuzul (turun), al-yad (tangan), al-maji’ (kedatangan) dan sifat-sifat lainnya, kita menerangkan semua sifat-sifat itu sesuai dengan keterangan ulama salaf. Al-istiwa’ misalnya, menurut keterangan para tabi’in sebagaimana yang ada dalam Shahih Bukhari berarti al-’uluw wal irtifa’ (tinggi dan berada di atas) sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah Shallallahu’alaihi wasallam. Allah berfirman,

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11)

Maksud beriman kepada sifat-sifat Allah secara benar adalah dengan tanpa hal-hal berikut ini:

1. Tahrif (penyimpangan): Memalingkan dan menyimpangkan zhahirnya (makna yang jelas tertangkap) ayat dan hadits-hadits shahih pada makna lain yang batil dan salah. Seperti istawa (bersemayam di tempat yang tinggi) diartikan istaula (menguasai).

2. Ta’thil (pembatalan, penafian): Mengingkari sifat-sifat Allah dan menafikannya. Seperti Allah berada di atas langit, sebagian kelompok yang sesat mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat.

3. Takyif (visualisasi, penggambaran): Menvisualisasikan sifat-sifat Allah. Misalnya dengan menggambarkan bahwa bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy itu begini dan begini. Bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy tidak serupa dengan bersemayamnya para makhluk, dan tak seorang pun yang mengetahui gambarannya kecuali Allah semata.

4. Tamtsil (penyerupaan): Menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya. Karena itu kita tidak boleh mengatakan, “Allah turun ke langit, sebagaimana turun kami ini”. Hadits tentang nuzul-nya Allah (turunnya Allah) ada dalam riwayat Imam Muslim. Sebagian orang menisbatkan tasybih (penyerupaan) nuzul ini kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ini adalah bohong besar. Kami tidak menemukan keterangan tersebut dalam kitab-kitab beliau, justru sebaliknya, yang kami temukan adalah pendapat beliau yang menafikan tamtsil dan tasybih.

5. Tafwidh (penyerahan): Menurut ulama salaf, tafwidh hanya pada al-kaif (hal, keadaan) tidak pada maknanya. Al-Istiwa’ misalnya berarti al-’uluw ketinggian), yang tak seorang pun mengetahui bagaimana dan seberapa ketinggian tersebut kecuali hanya Allah. Tafwidh (penyerahan): Menurut Mufawwidhah (orang-orang yang menganut paham tafwidh) adalah dalam masalah keadaan dan makna secara bersamaan. Pendapat ini bertentangan dengan apa yang diterangkan oleh ulama salaf seperti Ummu Salamah, Rabi’ah guru besar Imam Malik dan Imam Malik sendiri. Mereka semua sependapat bahwa, Istiwa’ (bersemayam di atas) itu jelas pengertiannya, bagaimana cara/keadaannya itu tidak diketahui, iman kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”

Penutup
Islam sebagai ajaran tauhid menyerukan kepada ummatnya untuk meyakini bahwa kekuasan di alam semesta ini, bahwa kekuatan yang ada di dunia dan di akhirat, hanyalah milik Allah swt, karena tiada Tuhan selain Dia. Allah swt adalah satu-satunya Tuhan yang Haq untuk disembah. Oleh karena itu, Allah swt akan mengampuni dosa manusia, selain dosa syirik, yaitu menyekutukan Allah swt dengan sesuatu yang lain. Allah swt berfirman,

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisaa’:  48)

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’: 116)

Referensi:

1. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan, Makna Tauhid Uluhiyah Dan Tauhid Adalah Inti Dakwah Para Rasul http://www.almanhaj.or.id : 2006
2. Agus Nizami, Tauhid – Mengesakan Allah http://www.media-islam.or.id : 2007
3. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan, Tauhid Rububiyah Dan Pengakuan Orang-Orang Musyrik Terhadapnya http://www.almanhaj.or.id : 2006
4. Baiturrahmah narrator, Macam-Macam Tauhid http://www.baiturrahmah.blogsome.com : 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s