Ramadhan : Berpuasa dengan Iman dan Ihtisab


kaligrafi bismillah

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah : 183)

Allah swt telah mewajibkan shaum (puasa) Ramadhan sebagai salah satu dari rukun Islam, sebagaimana telah diwajibkanNya atas orang-orang yang sebelumnya, sebagai wujud ketaqwaan kepadaNya.

Ramadhan adalah bulan yang didalamnya Al Qur’an Al Karim pertama kali diturunkan Rasulullah saw, yang dikenal dengan Nuzulul Qur’an, tepatnya pada malam 17 Ramadhan. Bulan yang suci dimana pada bulan inilah kitab suci untuk pertama kalinya diwahyukan kepada Rasulullah saw.

Pada bulan Ramadhan ini terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadr. Pada malam ini Allah menurunkan malaikat-malaikatNya dan Allah memberikan keselamatan padanya hingga menjelang fajar.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda,

Barang siapa yang berpuasa atas dasar iman dan ihtisab, hanya ingin mendapatkan balasan dari Allah, maka ia diampuni dosa-dosa yang telah lalu(HR. Bukhari Muslim)

Dari hadits di atas, dapat dilihat bahwa ganjaran dari seorang yang berpuasa adalah pengampunan dosa-dosanya yang telah lalu oleh Allah swt. Namun disini, Rasulullah menyatakan bahwa dasar dari puasa yang dilakukan oleh seorang yang ingin mendapatkan ganjaran tersebut, adalah iman dan ihtisab.

Iman dan Ihtisab

Menurut pengertian bahasa, iman berarti percaya dan yakin, sedangkan menurut pengertian syariat, iman adalah keyakinan dalam hati yang diucapkan atau dilafadzkan dengan lisan, dan diaplikasikan dengan amal perbuatan. Allah swt menjelaskan dalam Al Quran ciri-ciri mukmin yang sebenar-benarnya,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat- ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (ni’mat) yang mulia. ” (QS. Al Anfaal : 2-4)

Dari ayat di atas, tingkatan tertinggi dari keimanan seseorang, oleh Allah swt diciri-cirikan dengan:

  • Bergetar hatinya saat mendengar asma Allah disebutkan.
  • Bertambah keimanannya bila dibacakan ayat-ayat Allah.
  • Selalu Bertawakkal.
  • Menunaikan Shalat dan Menafkahkan rezekinya di jalan Allah.

Ihtisab berarti hitungan, koreksi, penilaian. Jika kita kaji berdasarkan hadits Rasulullah saw, makna dari ihtisab adalah suatu koreksi diri dan penilaian sendiri pada amal kita selama Ramadhan, apakah amalan itu akan mendapatkan ridho dari Allah swt. Sehingga ihtisab akan membawa pada pengharapan terhadap ridho Allah swt.

Pada bulan Ramadhan, sebaiknya kita lebih banyak introspeksi diri, baik dari amal perbuatan kita, maupun dari ibadah-ibadah yang kita lakukan. Bulan ini dapat dijadikan sebagai momen evaluasi diri. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda,

Berapa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapat manfaat apa-apa dari puasanya kecuali hanyalah lapar dan dahaga(HR. Ibnu Majah)

Dari hadits di atas, Rasulullah menjelaskan bagaimana banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apapun termasuk ridho Allah swt kecuali lapar dan haus. Sehingga untuk mencapai suatu ridho Allah, hendaknya puasa yang dilakukan berdasarkan iman dan ihtisab dalam hati.

Sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah swt dan lebih menjadikan hati kita peka terhadap sesama manusia, puasa yang kita lakukan bersama dengan ibadah-ibadah yang lain, seharusnya lebih berdasarkan pada keimanan yang kuat dan melakukan ihtisab dari amal-amal yang kita lakukan. Allah swt berfirman,

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika hanya seberat biji dzarrah pun, pasti Kami mendatangkan nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.(QS. Al Anbiya : 47)

Semoga Allah swt meridhoi amal ibadah kita selama Ramadhan, dan semoga kita dapat menjadikan bulan ini sebagai sarana introspeksi dan evaluasi diri untuk mempertebal dan memperkuat iman di dalam hati. Wallahu ‘alam bish showab.

Referensi:
1. Bulan Evaluasi dan Koreksi Diri, Waryono Abdul Ghafur, http://www.bernas.co.id, Sept 2006
2. Ihtisab, Dores Pnde MS, http://www.dores-kedaikopi.blogspot.com, Sept 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s