Tag Archives: Kisah

Ketika Hukum Rajam Diberlakukan

bismillah4

Segala puji bagi Allah swt, Tuhan semesta alam, yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Dia telah menetapkan hukum dan aturan bagi alam semesta dan kehidupan manusia yang dirangkum dengan kalimat-kalimatNya yang sungguh indah di dalam Al Qur’anul Karim.

Allah telah menghalalkan nikah dan mengharamkan zina, dan telah menetapkan ganjaran bagi masing-masing perbuatan tersebut. Di balik hukuman bagi penzina, ada sebuah kisah yang terjadi pada zaman Rasulullah saw. Dari cerita ini bisa diambil beberapa pelajaran dan hikmah.

*******

Semasa Rasulullah SAW masih hidup, ada beberapa kasus perzinahan yang minta dicarikan solusinya. Paling menarik adalah riwayat tentang seorang perempuan dari Ghamidiyah datang kepada Rasulullah SAW dan mengakui bahwa ia telah hamil dari hasil perzinaan. Dikisahkan perempuan ini terus mengulang-ngulang ucapannya dan minta ditetapkan hukum Allah kepada dirinya.

Rasulullah tidak mengacuhkan perempuan ini, menghindar darinya dan pernah meminta perempuan ini untuk menahan diri dulu dari omongannya. Tapi perempuan ini terus saja meminta disegerakan hukum rajam untuk menebus dosa-dosanya. Karena didesak terus, maka Rasulullah berkata:

“Karena engkau sudah mendatangiku dan berbicara kepada seluruh jamaah maka hukum Allah segera ditetapkan atas kesalahanmu, engkau akan dirajam”

Bersuka citalah perempuan ini, tapi Rasulullah SAW buru – buru menanyakan,

“Apakah engkau hamil?”

“Ya, Rasulullah” jawab perempuan tersebut.

“Maka, tundalah dulu hukuman itu, pelihara janinmu dengan baik, sampai engkau melahirkan anak yang sehat” Baca lebih lanjut

Iklan

Saatku memantapkan keyakinanku…(2)

Memang benar, bahwa keyakinan seorang insan berawal dari orang tuanya, karena saat ia lahir ke dunia, orang tuanya lah yang menjadi orang pertama yang dikenalnya. Tapi yang menjadi pertanyaan, Apakah hal tersebut akan seperti itu seumur hidupnya? Sedangkan Allah memberikannya karunia berupa akal, pikiran dan perasaan?

Jika ditanyakan kepada saya, maka jawaban saya adalah tidak. Saya berpikir bahwa jika kita meyakini sesuatu kita harus benar-benar tahu bahwa hal tersebut benar hakikatnya, bukan karena berdasarkan cerita-cerita semata. Walaupun tidak semuanya dapat dibuktikan dengan akal (Karena kemampuan manusia juga ada batasnya), bukan berarti kita harus berhenti berpikir untuk mencari bukti kebenaran sesuatu.

Berdasarkan pengetahuan saya saat itu, saya meyakini bahwa agama yang berasal dari Tuhan, dan bukan merupakan bagian dari kebudayaan manusia, ada 3 yakni, Yahudi, Nashrani, dan Islam. Saya mendapatkan pemahaman tersebut dari guru agama saya di SMK sewaktu saya duduk di kelas 2. Namun, pada saat saya mengikuti sebuah majlis ta’lim, saya sempat menanyakan suatu hal pada ustadz yang menjadi pemateri waktu itu, “Apakah Nabi-Nabi Allah sebelum Muhammad SAW tidak beragama Islam (bukan seorang Muslim)?”.

Penjelasan yang cukup memuaskan saya dapatkan saat itu. Ustadz tersebut menjawab pertanyaan saya dengan pernyataan singkat yang diperkuat dengan dalil Qur’an. Dia berkata,
“Sesungguhnya agama (ad-din) di sisi Allah adalah Islam. Arti Islam adalah berserah diri hanya kepada Allah, dan Nabi-nabi Allah adalah orang-orang yang berserah diri hanya kepada Allah. Dalam QS Al Baqarah : 135-136, Allah berfirman, ‘Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut YAHUDI dan NSRANI, niscaya KAMU MENDAPAT PETUNJUK”. Katakanlah: “TIDAK, melainkan (kami, umat Islam) mengikuti AGAMA IBRAHIM yang LURUS. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari GOLONGAN MUSYRIK. ‘. Jadi Dari dulu hingga sekarang Allah hanya meridhoi Islam sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya.”

Dan kesimpulan kecil yang dapat saya ambil dari pernyataan ustadz tersebut adalah bahwa Islam dari dahulu sudah ada dan bahwa Nabi-Nabi Allah yang terdahulu sebelum Muhammad saw juga merupakan seorang Muslim. Dan seperti Nabi Isa as, Rasulullah saw juga merupakan utusan Allah untuk menyempurnakan dan menggenapkan kitab-kitab sebelumnya.