Tag Archives: najis

Haramkah Anjing untuk dikonsumsi…?

kaligrafi-bismillahHai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. QS. Al Baqarah : 168

Maha Suci Allah, Dia lah Tuhan yang telah menciptakan segala apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Allah swt memerintahkan pada manusia sebagai hambaNya, untuk memakan apa saja yang dihalalkan dan meninggalkan apa saja yang diharamkanNya.

Setiap makanan yang tiada dalil shahih baik Al Quran maupun Hadits yang mengharamkannya, maka hukum dasarnya menjadi halal, boleh atau bisa jadi makruh untuk dimakan. Jadi, bagaimana dasar hukum memakan daging anjing bagi umat islam berdasarkan syariah?

Anjing Termasuk Hewan Buas

Dalam sebuah hadits yand diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,

Haram hukumnya setiap binatang buas yang memiliki taring dan setiap burung yang memiliki cakar.(HR. Malik)

Anjing termasuk hewan yang memiliki taring, oleh karenanya berdasarkan hadits di atas, daging anjing hukumnya haram untuk dikonsumsi.

Harga Anjing Haram Hukumnya

Dalam Hadits yang diriwayatkan dari Abu Mas’ud Al- Anshori, Rasulullah saw bersabda,

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam melarang dari harga anjing.(HR. Bukhari dan Muslim)

Dan jika harganya haram, maka dagingnya juga menjadi haram. Sebagaimana hadits diriwayatkan oleh banyak perawi hadits, Rasulullah saw bersabda,

Sesungguhnya Allah jika mengharamkan kepada suatu kaum memakan sesuatu maka (Allah) haramkan harganya atas mereka.”

Diriwayatkan oleh Asy-Syafi’iy dalam Musnadnya no.269, Ahmad dalam Musnadnya 1/247, 293 dan 322, Abu Daud no.3488, Ibnul Mundzir dalam Al-Ausath 2/281, Abu ‘Awanah dalam Musnadnya 3/371, Ibnu Hibban sebagiamana dalam Al- Ihsan no.4938, Ad-Daraquthny 3/7, Al-Baihaqy 6/13 dan 9/353, Ath-Thobarany no.12887, Al- Maqdasy dalam Al Mukhtarah 9/511, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.1475, dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid 9/44 dan 17/402-403 dan sanadnya shohih sebagaimana dalam Tuhfatul Muhtaj 2/204.

Anjing Termasuk Hewan Najis

Dalam beberapa hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,

Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian, maka cucilah 7 kali.(HR. Bukhari dan Muslim)

Sucinya wadah kalian yang dimasuki mulut anjing adalah dengan mencucinya 7 kali.(HR. Muslim dan Ahmad)

Oleh karena itu, seluruh ulama sepakat bahwa air liur anjing adalah najis, dan bahkan tergolong dalam najis berat “Mughallazhah“. Dan menurut madzhab Syafi’i dan Hambali, tidak hanya air liurnya, bahkan dagingnya juga tergolong sebagai najis dan menjadi haram hukumnya untuk dimakan.

Dua Mazhab Tidak Memandang Najis Daging Anjing

Namun Mazhab Maliki memandang bahwa anjing hukumnya hanya makruh, bukan haram (Al-Fiqh al-islami wa Adillatuhu, 3/508). Argumentasi Malikiyah adalah tidak adanya satu pun nash al-Qur’an yang secara tegas mengharamkan anjing.

Mazhab Hanafi seperti halnya pendapat Mazhab Maliki, berpendapat bahwa dalam beberapa hadits Nabi saw, hanya dijelaskan tentang kenajisan air liur anjing (termasuk kotorannya). Sehingga daging anjing dipandang sebagai tidak najis.

Penutup

Dalam Al Qur’an, tidak ada dalil yang jelas-jelas mengharamkan daging anjing, seperti halnya pengharaman daging babi. Dan hal itu menjadi dasar hukum Mazhab Maliki menyatakan makruh untuk mengkonsumsinya.

Dan sebagian jumhur ulama berdasarkan beberapa hadits di atas menyatakan bahwa haram hukumnya mengkonsumsi daging anjing.

Sebagai hamba Allah yang beriman, semoga kita dapat menjadikan sesuatu yang lebih manfaat dalam hidup kita sebagai makanan dan minuman yang kita konsumsi.

Wallahu a’lam bish showab.

Iklan

Thaharah dari Hadats dan Najis

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri”. (QS Al-Baqarah : 222).

Thaharah berdasarkan arti harfiah berarti bersih dan suci, sedangkan berdasarkan pengertian syara`, thaharah berarti mensucikan diri, pakaian dan tempat dari hadats dan najis, khususnya pada saat kita hendak shalat. Lebih jauh lagi, thaharah berarti mensucikan diri dan hati. Thaharah hukumnya wajib bagi setiap mukmin.

Allah swt berfirman,

Hai orang yang berselimut. Bangunlah, kemudian berilah peringatan !, dan agungkanlah Tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu“. (QS. Al-Muddatstsir : 1-4).

Adapun thaharah daripada najis dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  • Istinja, yaitu membasuh dubur dan qubul dari najis (kotoran) dengan menggunakan air yang suci lagi mensucikan atau batu yang suci dan benda-benda lain yang menempati kedudukan air dan batu, yang dilakukan setelah kita buang air.
  • Memercikkan Air, yaitu memercikkan air ke bagian yang terkena najis kecil (mukhaffafah).
  • Mencuci atau membasuh dengan air, yaitu dengan membasuh dengan air yang mengalir sampai pada bagian yang terkena najis sedang (mutawasithah) hilang tanda-tanda kenajisannya.
  • Menyamak,hal ini dilakukan untuk menyucikan diri dari najis berat.

Adapun thaharah daripada hadats dapat dilakukan dengan beberapa cara: Baca lebih lanjut