Tag Archives: Thaharah

Khitan: Bagi Laki-laki dan Perempuan

bismillah
Kemudian kami wahyukan kepadamu untuk mengikuti millah Ibrahim yang lurus(An-Nahl: 123).

Khitan menurut bahasa berasal dari akar kata arab khatana, yakhtanu, khatnan yang berarti “memotong”. Berdasarkan ilmu syar’i, pengertian khitan berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Khitan bagi laki-laki adalah memotong kulit yang menutupi hasyafah (kepala kemaluan), sehingga menjadi terbuka. Sedangkan khitan bagi perempuan adalah membuang bagian dalam faraj yaitu kelentit atau gumpalan jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang vulva bagian atas kemaluan perempuan. Khitan bagi laki-laki dinamakan juga I’zar dan bagi perempuan disebut khafd. Namun keduanya lazim disebut khitan.

Hukum dasar khitan menurut beberapa mazhab berbeda-beda. Menurut beberapa fuqaha mengenai hukum dasar khitan adalah sebagai berikut:

Mazhab Syafi’i. Menurut mazhab Syafi’i, khitan bagi laki-laki dan perempuan hukumnya wajib. Hal ini didasarkan pada Al Qur’an, surah An Nahl : 123. Dalam ayat tersebut yang dimaksud dengan millah Nabi Ibrahim as, salah satunya adalah berkhitan.

Dan berdasarkan hadits Rasulullah saw yakni, dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah bersabda, Baca lebih lanjut

Thaharah dari Hadats dan Najis

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri”. (QS Al-Baqarah : 222).

Thaharah berdasarkan arti harfiah berarti bersih dan suci, sedangkan berdasarkan pengertian syara`, thaharah berarti mensucikan diri, pakaian dan tempat dari hadats dan najis, khususnya pada saat kita hendak shalat. Lebih jauh lagi, thaharah berarti mensucikan diri dan hati. Thaharah hukumnya wajib bagi setiap mukmin.

Allah swt berfirman,

Hai orang yang berselimut. Bangunlah, kemudian berilah peringatan !, dan agungkanlah Tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu“. (QS. Al-Muddatstsir : 1-4).

Adapun thaharah daripada najis dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  • Istinja, yaitu membasuh dubur dan qubul dari najis (kotoran) dengan menggunakan air yang suci lagi mensucikan atau batu yang suci dan benda-benda lain yang menempati kedudukan air dan batu, yang dilakukan setelah kita buang air.
  • Memercikkan Air, yaitu memercikkan air ke bagian yang terkena najis kecil (mukhaffafah).
  • Mencuci atau membasuh dengan air, yaitu dengan membasuh dengan air yang mengalir sampai pada bagian yang terkena najis sedang (mutawasithah) hilang tanda-tanda kenajisannya.
  • Menyamak,hal ini dilakukan untuk menyucikan diri dari najis berat.

Adapun thaharah daripada hadats dapat dilakukan dengan beberapa cara: Baca lebih lanjut